Serem, inilah cara algoritme Facebook dan Google memprediksi pikiran kita selanjutnya - Banned Masal
News Update
Loading...

Wednesday, May 15, 2019

Serem, inilah cara algoritme Facebook dan Google memprediksi pikiran kita selanjutnya

Ke mana saja kita melangkah, sepanjang kita membawa smartphone atau perangkat komputasi, iklan seakan mengikuti kita. Lebih parah lagi, iklan-iklan ini seakan tahu apa yang kita inginkan. Kadang-kadang bahkan rasanya kita gres saja berniat untuk beli smartphone baru, tiba-tiba halaman Facebook kita lewat sisipan iklan smartphone idaman. Kebetulan? Sebagian besar ini terjadi alasannya yakni kehebatan dua raksasa iklan Silicon Valley, Google dan Facebook dalam ‘menambang’ acara langsung kita secara online, sehingga mereka seakan sanggup memperkirakan apa yang akan kita pikirkan selanjutnya untuk sasaran sasaran iklan!

Menurut Tristan Harris, mantan penilai etika desain di Google dan co-founder Center for Humane Technology, perusahaan-perusahaan ini bukan hanya semakin baik dalam memprediksikan langkah kita selanjutnya, tapi juga cukup memahami kita untuk membantu algoritme yang mereka buat datang pada kesimpulan yang sama. Kesimpulan ini diperoleh dari pengalaman online masa kemudian atau dengan melaksanakan ekstrapolasi terhadap contoh sikap konsumen, bahkan sebelum kita menginginkan sesuatu yang spesifik.

Tahun 2018 yang lalu, Facebook dan Google mengizinkan penggunanya untuk mendownload data yang telah mereka kumpulkan menurut acara online pengguna. Dari situ terungkap betapa lengkap dan detailnya kedua perusahaan ini dalam upaya memantau acara penggunanya. Facebook dan Google sanggup mengetahui di mana kau berada (berdasarkan lokasi login), berapa usang kau menempuh perjalanan, dan banyak detail data lainnya yang memang kemudian dimanfaatkan untuk menyempurnakan algoritme yang ujung-ujungnya yakni untuk membuat penargetan iklan setepat mungkin!

Di satu sisi, ini merupakan pencapaian yang menakjubkan. Akan tetapi ketika platform media umum ibarat Facebook dan YouTube kemudian menjadi alat untuk penyebaran pesan kekerasan di negara-negara berkembang, serta menjadi alat bagi ekstremis yang ingin memopulerkan agresi terornya, maka algoritme ini bakal menjadi alat yang berbahaya. Contoh nyatanya, algoritme YouTube dan Facebook akan mempromosikan konten-konten yang cenderung disukai orang-orang tersebut, sehingga malah mengakibatkan mereka semakin terpapar oleh efek kekerasan dari sumber-sumber online.

Sayangnya, hal ini sulit dihindari alasannya yakni model bisnis perusahaan-perusahaan itu sendiri. Saham Google dan Facebook bergantung pada seberapa akurat prediksi yang mereka buat untuk dimanfaatkan sebagai penargetan iklan yang spesifik. Ini mendorong kedua raksasa Silicon Valley ini semakin meningkatkan teknologi tracking miliknya untuk bisa melacak dan merekam preferensi seseorang secara spesifik.

Ancaman platform internet terhadap privasi individu memang merupakan sesuatu yang nyata. Akan tetapi pada akhirnya, bergantung pada keputusan pengguna juga, apakah bersedia mendapatkan konsekuensi ini. Penegak aturan di seluruh dunia juga sudah berusaha untuk semakin meningkatkan perangkat peraturan yang ditujukan untuk menjaga privasi seseorang dari paparan online.

Sumber: TheNextWeb


Sumber: https://winpoin.com/
Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
close