Kisah Silicon Valley #105 – Hironobu Sakaguchi sang ‘Pria Fantasi’ - Banned Masal
News Update
Loading...

Saturday, May 11, 2019

Kisah Silicon Valley #105 – Hironobu Sakaguchi sang ‘Pria Fantasi’

Ketika ditanya dari mana inspirasi untuk menciptakan serial Final Fantasy yang legendaris itu Kisah Silicon Valley #105 – Hironobu Sakaguchi sang ‘Pria Fantasi’

Ketika ditanya dari mana inspirasi untuk menciptakan serial Final Fantasy yang legendaris itu, Hironobu Sakaguchi menjawab dengan sederhana, “Saya selalu merasa bahwa saya tidak berbakat menciptakan game action, meskipun saya selalu suka memainkan game semacam itu semenjak kala Apple II. Makara pilihan saya hanya keluar dari bisnis ini… atau bersaing di genre yang merupakan kelebihan saya: sebuah game petualangan berbasis narasi.”

Dan sepertinya, Sakaguchi menentukan yang kedua.

 

Menggemari Game semenjak Kecil

Sakaguchi pertama kali bersentuhan dengan dunia video game sempurna di kala awal berkembangnya industri ini. Game terkenal dikala itu, Pong (dan beberapa game lain yang beliau lupa alasannya sudah terlalu lawas). Saat remaja, beliau meminta orangtuanya untuk membelikannya Apple II, PC rumahan yang dikala itu masih belum umum, apalagi bagi Jepang. Di sana beliau bermain beberapa game bertipe RPG (role-playing game), menyerupai Ultima, Wizardry, dan kemudian juga ikut antusias dikala Transylvania booming.

Selain itu, menyerupai halnya belum dewasa Jepang lainnya, Sakaguchi tergila-gila pada manga dan anime. Akira Toriyama (kreator Dragon Ball) merupakan salah satu mangaka favoritnya. Secara otomatis, ketika Dragon Quest, sebuah game yang karakternya didesain oleh Akira Toriyama, dirilis ke pasaran, Sakaguchi langsung membeli game itu dan tergila-gila padanya. Ini terungkap dalam sebuah wawancara dengan Forbes  tahun 2017 lalu. “Kalau membahas Dragon Quest, rasanya begitu besar respek saya terhadap game itu. saya sendiri secara pribadi yaitu penggemar sensei Toriyama, dan saya membaca majalah Jump (majalah manga yang terbit di Jepang) setiap minggu. Ketika saya mulai menciptakan Final Fantasy, saya selalu punya impian bahwa saya bisa sedikit menyamai kualitas Dragon Quest.” Sakaguchi menambahkan. “Tim developer kemudian bercanda dengan menyampaikan kepada saya: Kita tidak akan pernah mengalahkan Dragon Quest, jadi paling tidak ayo kita rilis game ini lebih cepat, jadi nanti jikalau game ini laku dan jadi serial, kita bakal punya lebih banyak seri.”

 

Karir Membuat Game

Ketika ditanya dari mana inspirasi untuk menciptakan serial Final Fantasy yang legendaris itu Kisah Silicon Valley #105 – Hironobu Sakaguchi sang ‘Pria Fantasi’
via a90skids

Sakaguchi bergabung dengan Square (ke depannya perusahaan ini akan bergabung dengan rivalnya, Enix, dan balasannya menyandang nama Square Enix) pada tahun 1983 dan proyek mereka utamanya yaitu game PC. Namun proyek terbesar Square yaitu ketika mereka berbagi game untuk Famicom dari Nintendo. Judul-judul seperti Highway StarKing’s Knight, dan World Runner menjadi game laku di Famicom.

“Saya merasa hari-hari saya menyenangkan di Square,” ungkap Sakaguchi ketika ditanya kesannya dikala bekerja di Square, hari-hari di mana game masih di tahap awal popularitas. “Selama hari-hari itu, studio yang melaksanakan pengembangan game biasanya menyewa sebuah apartemen. Karena saya sangat miskin, waktu itu saya lebih suka tidur di studio alasannya di sana saya bisa mandi dengan lezat dan mencicipi ruangan nyaman ber-AC. Saya jarang sekali pulang.”

Boss Square pada dikala itu meminta Sakaguchi untuk berfokus mendesain sebuah game model 3D. Alasannya yaitu alasannya belum banyak tipe game menyerupai itu di pasaran, dan kebetulan Square mempunyai seorang programmer yang luar biasa mahir dalam koding 3D graphic, Nasir Gebelli.

Sakaguchi kemudian mencoba merancang game RPG – tipe game yang dekat dengannya – tapi dengan sentuhan 3D. Dia kemudian mendesain dokumen untuk Final Fantasy. Judul yang dipilihnya tersebut mencerminkan suasana hatinya dikala merancang game tersebut. Sebelum ini game rancangan Sakaguchi tidak terjual dengan baik. Lagipula pada dikala itu, game action sedang laris-larisnya. Karena tidak yakin karirnya panjang (Sakaguchi selalu merasa bahwa dirinya tidak berbakat, hanya suka bekerja keras), beliau membayangkan bahwa proyek ini merupakan proyek pertama dan terakhir yang akan dikerjakannya. Dari situlah asal nama ‘Final Fantasy’.

Ketika ditanya dari mana inspirasi untuk menciptakan serial Final Fantasy yang legendaris itu Kisah Silicon Valley #105 – Hironobu Sakaguchi sang ‘Pria Fantasi’

Pada dikala Final Fantasy pertama dirilis, Dragon Quest merupakan game yang sangat populer. Sedangkan di bidang RPG, Black Onyx merupakan game RPG pertama Jepang yang dikala itu sedang laris. Tidak diduga, penceritaan yang baik serta denah 3D yang unik dari Final Fantasy mengakibatkan game ini sangat laris. Penjualan Final Fantasy langsung menelan Black Onyx yang dibesut oleh Bulletproof Software. Kali ini Sakaguchi keliru. Ini bukan ‘final’ untuknya, alasannya kemudian boss Square meminta Sakaguchi untuk segera menyiapkan sekuel Final Fantasy untuk menanggapi usul yang membludak.

Kesuksesan Final Fantasy bahkan mengubah nasib Square. Perusahaan developer game yang berkantor di apartemen ini kemudian bisa menyewa kantor di lokasi yang elit. Sakaguchi diberikan sokongan dana yang nyaris tanpa batas oleh Square untuk mempekerjakan bakat-bakat cemerlang di Jepang pada masa itu. Antara lain Tetsuya Nomura, chara designer yang nantinya mendesain aksara Cloud dan Aeris, yang mana gaya art-nya di kemudian hari dianggap sebagai ciri khas Square. Tetsuya Takahashi, desainer Xenogear dan Xenoblade, serta Yasumi Matsuno, kreator game laku menyerupai Ogre Battle, Final Fantasy Tactics, dan Vagrant Story.

Ketika ditanya dari mana inspirasi untuk menciptakan serial Final Fantasy yang legendaris itu Kisah Silicon Valley #105 – Hironobu Sakaguchi sang ‘Pria Fantasi’
via aminoapps

Namun para gamer mungkin ke depannya akan terus mengingat kerjasama Sakaguchi dengan Nobuo Uematsu, komposer lagu tema dan BGM game-game besutan Square. Meskipun tadinya Uematsu bekerja menangani game-game umum dari Square, namun Square meminta Uematsu untuk mengutamakan karya Sakaguchi (tentu saja alasannya Final Fantasy yaitu pundi-pundi uang mereka). Kolaborasi mereka berdua melahirkan lagu-lagu tema yang digemari, bahkan bukan hanya oleh penggemar game.

Eyes on Me yang dinyanyikan Faye Wong menjadi hits, bahkan orang mungkin pernah mendengarnya meskipun belum pernah memainkan Final Fantasy VIII yang berfokus pada kisah cinta Squall Leonheart dan Rinoa.

Suteki da ne, lagu tema Final Fantasy X juga terkenal dan sering diputar di banyak kegiatan anime manga.

Ini yaitu zaman keemasan bagi Square. Mereka bahkan dengan gampang mencari laba dengan membuat spinoff (serial terpisah) dari karakter-karakter yang ada di Final Fantasy menyerupai Bahamut Lagoon, Brave Fencer Musashi, Racing Lagoon, dan Dew Prism. Square bahkan menciptakan anak perusahaan tersendiri untuk merilis serial-serial non-JRPG biar tidak ‘melukai’ gambaran perusahaan sebagai pembuat game RPG terbaik.

Salah satu milestone Square yaitu mengkreasi film layar lebar dengan pertolongan Hollywood, Final Fantasy: The Spirits Within – tentu saja tetap melibatkan Sakaguchi. Gaya animasi CGI menyerupai itu merupakan hal gres pada tahun rilisnya, 2001. Film ini menjadi perbincangan besar para kritikus dan sineas, sayangnya tidak diiringi dengan keuntungan. Film berbiaya USD 137 juta ini hanya mengumpulkan uang sebesar USD 85 juta dari pemutarannya.

Pada tahun 2004, Sakaguchi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatannya sebagai Executive vice president. Sayangnya, administrasi gres sepeninggal Sakaguchi kurang disukai oleh talenta-talenta yang dulu bekerja bersama Sakaguchi. Yasumi Matsuno, salah satu bakat utama Square balasannya ikut mengundurkan diri dari perusahaan dengan alasan kesehatan, dan beliau tidak pernah mau kembali ke Square.


 

Sakaguchi kemudian pindah ke Hawaii, kawasan yang menunjukkan ketenangan baginya. Dia menghabiskan waktu berselancar dan dengan santai menciptakan desain game-game gres yang kemudian dijual kepada perusahaan game, termasuk tempatnya dulu bekerja, Square, yang sudah mengakuisisi Enix dan menjadi Square Enix. Namun entah berapa usang Sakaguchi bisa mempertahankan kehidupan santainya, alasannya perusahaan-perusahaan besar rutin menggodanya untuk kembali bekerja, termasuk Microsoft yang mengajaknya terlibat dalam pengembangan game langsung Xbox 360: Blue Dragon dan Lost Odyssey.

Satu hal yang sanggup dipelajari dari kreator game legendaris ini, Sakaguchi selalu merasa sebagai ‘orang biasa’ – bukan seorang jenius atau istimewa. Proses kreatif, baginya bukan merupakan ambisi, ini yaitu tugas, sebuah tanggung jawab. Dia berupaya menuntaskan game tersebut bukan didorong oleh ambisi, namun alasannya beliau memang menganggap itu yaitu kewajibannya. Tidak ada batas final dalam menuntaskan kewajiban ini, beliau terus melakukannya, lagi dan lagi, dan demikianlah serial Final Fantasy gres terus menerus keluar.

 

 

 

Referensi

Barder, Ollie. (2017). Hironobu Sakaguchi Talks About His Admiration For ‘Dragon Quest’ And Upcoming Projects. Forbes.

Boxer, Steve. (2012). JRPG legend Hironobu Sakaguchi – interview. The Guardian.

Parkin, Simon. (2012). Hironobu Sakaguchi – Fantasy ManEurogamer


Sumber: https://winpoin.com/
Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
close