Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook - Banned Masal
News Update
Loading...

Friday, April 12, 2019

Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook

Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook

“Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya,” ujar Spiegel dengan penuh percaya diri. “Saya berfokus membangun nilai, alasannya ialah ‘berdagang’ dalam jangka pendek tidak begitu menarik untuk saya.” Jelas Spiegel mengomentari pertanyaan pers terkait penolakannya terhadap anjuran Zuckerberg yang nilainya terbilang fantastis dikala Snapchat masih belum menunjukkan prospek sama sekali.

 

Zuckerberg Menawar Dua Kali

Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook
via Reuters

Evan Spiegel tertawa ketika mendapatkan email dari pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Pria yang mendapatkan status ‘orang terkaya di dunia untuk jajaran usia di bawah 30’ ini mengundang Spiegel untuk tiba ke Menlo Park, markas Facebook biar mereka ‘bisa saling mengenal satu sama lain’. Zuckerberg dan Spiegel mempunyai persamaan yang unik: Keduanya sedang menghadapi tuntutan dari ‘mantan rekan’ untuk jejaring sosial yang mereka ciptakan. Meskipun demikian, Spiegel menolak disamakan dengan Zuck yang dianggapnya ‘terlalu kaku’ dan ‘culun’. Balasan Spiegel kepada Zuckerberg dikala itu: “Saya akan sangat bahagia bertemu Anda… kalau Anda tiba ke saya.”

Zuckerberg terkenal kurang suka didikte oleh orang lain, apalagi Spiegel yang lebih muda darinya. Meskipun demikian, raja sosial media itu terbang dengan jet pribadi ke kediaman Spiegel di Los Angeles. Zuckerberg yang terkenal dengan efisiensinya, tanpa basa-basi eksklusif mengajukan anjuran pada Spiegel untuk mengakuisisi Snapchat senilai USD 1 miliar. Bahkan beliau eksklusif mempresentasikan visinya untuk Snapchat kalau ‘bergabung di keluarga Facebook’. Tawaran itu ditolak oleh Spiegel alasannya ialah beliau merasa bahwa mereka bisa jadi lebih besar lagi tanpa harus menjadi bab dari Facebook. Mendapati penolakan dari Spiegel, Zuckerberg menutup perjumpaan dengan memberikan bahwa Facebook juga sedang menyiapkan aplikasi gres berjulukan Poke, yang fungsinya kurang lebih ibarat Snapchat, yaitu mengirimkan foto yang bisa menghilang sehabis beberapa menit dikirimkan. Keesokan harinya, Zuckerberg memerintahkan penggantian lambang like (jempol mengacung) di depan Silicon Valley campus menjadi ikon Poke.

Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook

Spiegel merasa bahwa itu ialah cara Zuckerberg untuk memberikan “aku akan meremasmu sampai hancur”.

Snapchat nampaknya bukan sasaran tunggal Facebook. Di tahun yang sama, 2012, Zuckerberg melaksanakan jumpa pers dan memberikan bahwa Facebook telah berhasil mengakuisisi Instagram, sebuah aplikasi sosial menyebarkan foto yang di tahun itu juga sedang menanjak popularitasnya. Tanpa banyak kontroversi, Instagram dan timnya menjadi bab dari keluarga Facebook. Instagram mengisi ‘celah kosong’ pada sketsa Facebook, yaitu membagikan foto secara cepat melalui aplikasi seluler, yang mana aplikasi ini bersifat mobile first sehingga cepat diakses oleh sesama pengguna yang memakai smartphone (Facebook mempunyai kekuatan lebih besar di web). Lebih mudahnya, ini ibarat Twitter, hanya saja berisi foto dan video. Instagram lebih ibarat ‘anak manis’ bagi Zuckerberg, alasannya ialah perusahaan ini juga tidak tahu cara memonetisasi aplikasinya yang terkenal (Ini juga merupakan duduk kasus besar bagi Twitter yang sudah usang eksis). Tawaran Facebook merupakan berkah tersendiri bagi kreator dan tim developernya. Sementara bagi Facebook, dengan kekuatan dan sketsa iklan Facebook, tentu saja sangat mungkin bagi Facebook untuk mendapatkan laba dari Instagram.

Tanggal 21 Desember 2012, Zuckerberg mengirim email kepada Spiegel untuk mengabarkan bahwa Poke sudah resmi dirilis. Spiegel tidak mengecewakan panik dan memanggil Bobby Murphy, sahabatnya yang sekarang menjabat sebagai chief technology officer Snapchat. Dia meminta pendapat Murphy ihwal Poke dan bagaimana sebaiknya langkah Snapchat untuk memenangkan persaingan dengan Poke. Murphy dikala itu menjawab sinis, “Poke hanya kopian mentah Snapchat”.

Hari pertama diluncurkan, Poke menjadi aplikasi nomor satu yang paling banyak diunduh di iPhone App Store. Namun hal yang lucu terjadi. Tiga hari kemudian, sempurna tanggal 25 Desember 2012, aplikasi ini bahkan tidak bisa masuk ke 30 teratas aplikasi terpopuler di App Store. Sementara Snapchat kembali memuncaki daftar teratas aplikasi yang paling banyak diunduh! Saat diwawancara mengenai perasaannya pada dikala itu, Spiegel tertawa lebar. Dia berkata, “Itu seperti: Selamat Natal, Snapchat!”

Zuckerberg nampaknya berusaha menelan egonya mentah-mentah, dan pada trend gugur tahun 2013, CEO Facebook ini kembali mengajukan penawaran kepada Spiegel. Kali ini nilainya tiga kali lipat sebelumnya: USD 3 miliar! Nilai yang sangat fantastis untuk sebuah aplikasi yang dikala itu bahkan belum mempunyai pendapatan. Namun Spiegel bahkan eksklusif menolak anjuran itu kembali tanpa perlu berpikir.

 

Sang Raksasa Bermain Kasar

Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook

Dunia teknologi dibentuk geleng-geleng oleh keras kepalanya Spiegel. Seorang investor yang menjadi narasumber FORBES mengomentari kejadian ini dengan nada heran, “Saya mengakui bahwa Snapchat mempunyai nilai yang besar. Tapi USD 3 miliar? Saya rasa tidak!”

Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook
Spiegel bersama George Lucas dan CEO Vice, Shane Smith via Business Insider

Menolak anjuran Zuckerberg mungkin tidak menjadikan Spiegel bertambah kaya, namun setidaknya, beliau menjadi selebriti. Orang-orang mengagumi perilaku kepala batunya, apalagi dikala dihadapkan dengan uang dalam jumlah yang tidak masuk logika tersebut. Spiegel mulai bergaul dengan para seleb, artis, aktor, dan para pekerja film – Ini nantinya memuluskan langkah Spiegel memikat artis kenamaan yang kemudian hari menjadi kekasihnya: Miranda Kerr.

Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang sanggup membangun bisnis ibarat saya Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook
Evan Spiegel & Miranda Kerr via GotCeleb

Uniknya, Snapchat sendiri bahwasanya masih berjuang untuk bisa mendapatkan pemasukan. Kekayaan Spiegel sebagian besar diperoleh dari kepercayaan investor kepada Snapchat. Namun dari sisi revenue, bahwasanya penghasilan Snapchat sangat buruk. Meskipun demikian, sangat susah mengabaikan Snapchat alasannya ialah aplikasi ini mempunyai traffic yang sangat tinggi dan user base yang sangat besar. Terhitung setiap hari ada 190 juta posting di Snapchat.

Setelah menikmati masa-masa tenang dan hidup ibarat bintang rock yang bergelimang pemujaan, pada tahun 2016, sebuah informasi mengejutkan Evan Spiegel. Instagram meluncurkan sebuah fitur yang diberi nama Stories. Dilihat dari sudut mana pun, jelas-jelas ini merupakan contekan Snapchat Stories yang menjadikan Snapchat populer. Saat itulah Spiegel gres sadar bahwa anak muda memang gampang dipikat oleh sesuatu yang unik, keren, dan gres – tapi mereka kurang punya loyalitas. Perlahan tetapi pasti, seiring dengan makin populernya Instagram yang selalu dicitakan sebagai ‘platform anak muda’, pengguna Snapchat semakin surut dan menjadikan guncangan terhadap valuasi saham Snapchat.

Sementara itu Facebook mempunyai kelihaian lain. Zuckerberg ibarat biasa bisa melaksanakan monetisasi terhadap Instagram dan fitur-fiturnya. Ini menjadikan kalangan bisnis yang sebelumnya menaruh kepercayaan pada Snapchat, perlahan-lahan berpaling kepada Instagram yang sketsa monetisasinya lebih terjamin dan menguntungkan.

Sejak Stories rilis itulah dimulai tahun-tahun berat bagi Spiegel dalam mempertahankan Snapchat. Miranda Kerr bahkan ikut uring-uringan dan dalam sebuah wawancara mengeluh, “Mengapa Facebook tidak bisa inovatif? Apakah mereka harus mencuri semua inspirasi pacar saya? Saya sangat kaget. Kalau mereka bisa terang-terangan menjiplak seseorang, itu bukan inovasi!”

Spiegel sendiri dengan sinis mengomentari tindakan Zuckerberg, “Pada akibatnya nanti semua orang akan sadar, bahwa hanya alasannya ialah Yahoo punya kotak pencarian, bukan berarti ini ialah Google,”

Zuckerberg tidak merespons wawancara tersebut, namun terus meningkatkan tekanan pada Snapchat. Saat Snapchat merilis sebuah fitur baru, maka dengan cepat Instagram akan mempunyai fitur pesaingnya (oke, tiruannya). Ini menjadikan Spiegel sangat frustasi. Saham Snapchat sangat terdampak oleh hal ini dan terus menerus mengalami penurunan, seiring juga semakin menurunnya pengguna Snapchat.

Meskipun demikian, Snapchat masih mempunyai laba yang tidak sanggup dibantah kalau dibandingkan dengan keluarga aplikasi Facebook. Di Snapchat, pengguna bisa memposting foto dengan jaminan bahwa foto tersebut tidak akan tersebar dan menjadi bahan bully di masa mendatang. Hal yang nampaknya masih sulit dijanjikan oleh Facebook!

Ini terbukti bahwa pada 2 Maret 2017, Snapchat go public dan mencatatkan nilai USD 33 miliar. Spiegel sendiri meningkatkan keuangan pribadinya menjadi sebesar USD 1,6 miliar jawaban lonjakan saham Snapchat sebesar 44% pada hari pertama trading. Sayangnya, nilai ini kemudian terus menyusut tanpa bisa dicegah oleh Spiegel.

Nilai Snapchat boleh terus menurun, tapi Spiegel tetap mencatatkan diri sebagai ‘founder termuda dan tersukses di dunia teknologi’. Daftar Forbes menempatkannya sebagai miliuner termuda di usia 25 tahun. Pada tahun 2018, net worth Spiegel ialah USD 2,7 miliar – Nilai ini meskipun cukup besar, bahwasanya sudah menyusut alasannya ialah tahun sebelumnya net worth Spiegel tercatat sebesar USD 4 miliar!

 

 

Referensi

Colao, (2014). The Inside Story Of Snapchat: The World’s Hottest App Or A $3 Billion Disappearing Act? Forbes

Hartmans, Avery & Stone, Madeline. (2018). The life and career rise of Snap CEO Evan Spiegel, one of the youngest billionaires in the world. Business Insider

Ingram, Matthew. (2016). Here’s Why Facebook Is So Desperate to Buy, Copy or Kill Snapchat. Fortune

Kosoff, Maya. (2018). Does Evan Spiegel Know Where Snapchat is Going. Vanity Vair.

Moskvitch, Katia. (2018). Insiders say working at Snapchat is ‘like swimming in a shark tank’. Wired.


Sumber: https://winpoin.com/
Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
close