Kisah Silicon Valley #100 – Evan Spiegel, Selalu Tahu yang Dimau Remaja - Banned Masal
News Update
Loading...

Friday, April 5, 2019

Kisah Silicon Valley #100 – Evan Spiegel, Selalu Tahu yang Dimau Remaja

Saya seorang laki-laki kulit putih yang muda dan terdidik Kisah Silicon Valley #100 – Evan Spiegel, Selalu Tahu yang Dimau Remaja
via Business Insider

“Saya seorang laki-laki kulit putih yang muda dan terdidik,” Evan Spiegel mengungkapkan hal tersebut dengan penuh percaya diri di sebuah konferensi bisnis di Stanford. “Saya sangat, sangat beruntung. Dan hidup memang tidak adil untuk kalian.”

Evan Spiegel mungkin bukan salah satu nama yang berkesan konkret di dunia teknologi. Banyak yang tidak menyukai sikapnya yang urakan dan arogan, serta cara bisnisnya yang kadang tidak beretika. Namun benci atau cinta, per 2018 kemudian Snapchat mempunyai 300 juta pengguna aktif, jumlah yang signifikan untuk sebuah media sosial. Meskipun orangtua sangat membenci platform media umum yang satu ini, alasannya yaitu ditengarai ‘terlalu bebas’, namun perlu diakui, Spiegel yaitu orang yang sangat tahu apa yang diinginkan remaja. Lebih dari 90% pengguna Snapchat yaitu remaja dan sebuah penelitian statistik mengungkap bahwa Snapchat masih bisa untuk mendominasi demografi ini, paling tidak sampai tahun 2022.

 

‘Beruntung’ lahir dari keluarga kelas atas

Spiegel menghabiskan masa kecilnya di Pacific Palisade, wilayah glamor Los Angeles di Timur Malibu. Dia yaitu anak sulung dari dua orang pengacara kelas atas yang biasa menangani kasus-kasus perusahaan Fortune 500 di wilayah tersebut. Sayangnya, kedua orangtua Evan kemudian bercerai dikala beliau duduk di dingklik SMA.

Saya seorang laki-laki kulit putih yang muda dan terdidik Kisah Silicon Valley #100 – Evan Spiegel, Selalu Tahu yang Dimau Remaja
via Business Insider

Berasal dari keluarga kelas atas, tentu saja Spiegel bersekolah di forum yang sangat eksklusif. Crossroad School di Santa Monica, merupakan ‘sekolah selebriti’ di wilayah tersebut yang biaya per semesternya mencapai puluhan ribu dolar. Banyak bintang kelas A Holywood merupakan alumni sekolah tersebut, contohnya Kate Hudson, Jonah Hill, Jack Black, dan Gwyneth Paltrow. Pendiri Tinder, Sean Rad, juga merupakan alumni dari sekolah super mahal ini.

Sifat Spiegel yang songong mungkin memang alasannya yaitu kedua orangtuanya memanjakannya setengah mati. Semasa SMA, beliau mendapatkan peluang untuk magang di Red Bull. Spiegel kemudian meminta orangtuanya untuk memperlihatkan ‘sarana transportasi’ berupa sebuah BMW 550i seharga USD 75.000 (sekitar satu miliar seratus juta rupiah). Surat yang ditulisnya kepada orangtuanya saja memperlihatkan betapa beliau tidak malu-malu untuk meminta hadiah tersebut. “..Mobil memperlihatkan kesenangan bagi saya. Saya akan sangat menghargai bila ayah dan ibu mengakui kerja keras saya dengan membelikan BMW untuk kendaraan saya.”

Di luar sifat arogannya, Spiegel memang berbakat dan cerdas. Dia diterima di jurusan product design Stanford, salah satu universitas bergengsi di AS. Di sanalah beliau berjumpa dengan kawan pendiri Snapchat lainnya, Reggie Brown dan Bobby Murhphy. Ketiganya kelak akan mengukir legenda dengan kesuksesan Snapchat.

Saya seorang laki-laki kulit putih yang muda dan terdidik Kisah Silicon Valley #100 – Evan Spiegel, Selalu Tahu yang Dimau Remaja
via Business Insider

 

Berawal dari Foto yang Bisa Terhapus Sendiri

Saya seorang laki-laki kulit putih yang muda dan terdidik Kisah Silicon Valley #100 – Evan Spiegel, Selalu Tahu yang Dimau Remaja

Semua berawal dari Reggie Brown. Sebagai anak muda yang gaul, mereka bertiga yaitu pengguna Facebook. Salah satu ‘kelemahan’ Facebook bagi remaja adalah, foto yang diposting akan tetap berada di sana selamanya, kecuali bila pengguna menghapusnya. Padahal sebagai anak muda, mereka menikmati acara mengirimkan foto-foto konyol untuk saling bully dengan teman-teman lain. Kalaupun foto itu dihapus, maka di kawasan lain sudah ada sahabat yang men-download foto memalukan tadi dan akan dipakai sebagai ‘senjata’ ke depannya. Reggie mengeluhkan bahwa persoalan ini bisa teratasi bila ada medsos yang bisa menjadikan foto terhapus sendiri sehabis beberapa saat, serta tidak memungkinkan untuk download atau melakukan screenshot pada postingan atau foto. Evan Spiegel menyukai inspirasi tersebut, dan mulai memikirkan untuk menciptakan aplikasi sosmed semacam itu.

Evan Spiegel, Reggie Brown, dan Bobby Murphy kemudian menciptakan aplikasi yang mempunyai bagan berkirim pesan dan foto ibarat yang diinginkan Brown. Mereka memberi nama aplikasi tersebut Pictaboo. Pemosisian aplikasi ini sebagai sarana sexting (berkirim pesan seksual) juga sangat jelas. Dalam deskripsi aplikasi, dijelaskan bahwa: “Pictaboo, memungkinkan kau dan pacar mengirim foto untuk mengintip, tapi bukan untuk disimpan”. Sayangnya, aplikasi ini belum menjadi ‘hit’.

Meskipun demikian, ketika Spiegel ingin membawa aplikasi tersebut ke tahap selanjutnya, Brown tidak setuju. Dia ingin mempunyai saham yang lebih besar untuk Pictaboo, mengingat beliau yaitu orang yang ‘menemukan ide’ dan ‘mengarahkan’ Spiegel dan Murphy untuk menciptakan aplikasi sesuai kehendaknya. Spiegel naik darah dan memutuskan tidak akan memakai nama Pictaboo lagi. Setelah menuntaskan persoalan aturan terkait hak cipta dan semacamnya (tentu saja keluarga Spiegel sanggup mendapatkan amanah untuk persoalan ini), Spiegel dan Murphy memakai nama Snapchat!

Karena baru, Snapchat sanggup ‘menyelinap di bawah radar’ dan terkenal di kalangan pelajar. Pada tahun 2012, sebagian besar sekolah mengizinkan pelajar untuk menenteng ponsel atau tablet, akan tetapi memblokir penginstalan media umum (terutama Facebook) dan aplikasi berkirim pesan lainnya. Saat itu Snapchat masih bisa diinstal dan sangat mudah untuk pelajar alasannya yaitu mereka juga bisa berkirim contekan lewat aplikasi ini. Pada April 2012, Snapchat sudah mencapai 100.000 pengguna, sebuah jumlah yang cukup besar untuk aplikasi baru.

Spiegel dan Murphy mulai kesulitan membayar server alasannya yaitu tingginya traffic Snapchat. Mereka berkomitmen untuk membagi biaya server separuh-separuh. Untuk Spiegel yang kaya, jumlah tersebut tidak masalah. Akan tetapi Murphy harus bekerja keras untuk sanggup membayar bagiannya. Ketika biaya mencapai USD 5000, kedua sahabat ini merasa bahwa mereka perlu campur tangan pihak luar.

Lightspeed Venture adalah angel investor yang kemudian menyelamatkan Snapchat. Perusahaan ini bahwasanya sudah usang berupaya menemui para pendiri Snapchat, akan tetapi itu terhalang alasannya yaitu Spiegel dan Murphy sendiri menyembunyikan data mereka dengan sangat luar biasa. Website mereka tidak mempunyai informasi kontak, dan bahkan tidak sanggup dilacak memakai ‘Whois’. Padahal dikala itu Snapchat sudah nyaris sama terkenal ibarat Instagram dan Angry Birds! Dengan susah payah melaksanakan penyelidikan, Lightspeed jadinya menemukan dua orang pendiri Snapchat ini. Mereka pun mengikat komitmen senilai USD 4,25 juta.

Setelah modal digelontorkan, Spiegel dan Murphy bekerja dengan sangat serius. Mereka menyewa karyawan untuk melaksanakan pengembangan aplikasi. Kantor mereka dekat dengan rumah ayah Spiegel, sehingga memudahkannya untuk mencari makanan atau aksesori uang. Untuk mendapatkan karyawan dengan honor agak miring, Spiegel rajin merayu mahasiswa Stanford yang brilian, bahkan langsung meminta mereka semoga putus kuliah dan bekerja dengannya saja. “Dia meyakinkan kami untuk drop out dari Stanford dan pindah ke Los Angeles hanya dalam satu percakapan,” ungkap Daniel Smith, salah satu karyawan awal Snapchat.

Tim awal yang dibuat Spiegel dan Murphy ini bekerja keras seharian untuk memenuhi deadline pengembangan fitur Snapchat. Seringnya bahkan mereka berhenti bekerja hanya bila sudah mendekati (atau kadang melewati) jam tidur. Kebanyakan karyawan ini menginap di rumah Spiegel, dan co-founder Snapchat ini dengan iseng seringkali mengganggu istirahat mereka dengan menciptakan suara-suara keras di rumah atau bahkan mengganti arahan yang sudah ditulis karyawannya. Murphy menceritakan, “Saya bahkan sampai kini sering bermimpi jelek mendengar Evan melompat-lompat di tangga”

Meskipun terlihat kacau balau, tim ini bekerja sangat efektif, setidaknya demikian di mata investor. Perwakilan Lightspeed menceritakan bahwa “Mereka biasanya bertengkar alasannya yaitu sama-sama ingin diakui sebagai ‘penemu’ fitur tertentu. Namun hasilnya brilian. Bukan hanya fitur yang ‘mirip Facebook’, tapi mereka bahkan menciptakan fitur yang sanggup menantang Facebook”. Perlu diketahui memang bahwa pada dikala Snapchat dikembangkan, Facebook sudah bermetamorfosis sebagai media umum paling terkenal di dunia. Oleh alasannya yaitu itu semua orang selalu membandingkan Snapchat dengan Facebook. Namun keberadaan Snapchat terbukti kemudian menjadi antitesis Facebook. Saat itu Facebook dicap bau tanah dan kolot. Banyak orang remaja yang memakai Facebook dan terlalu banyak batasan dan aturan, sehingga remaja mencari media umum alternatif. Snapchat dengan segala keberaniannya mendobrak norma (termasuk dengan terang-terangan mengakui diri sebagai aplikasi untuk sexting) menarik perhatian para remaja. Aplikasi ini dianggap muda dan keren! Apalagi Snapchat merupakan aplikasi mobile first – aplikasi ini lebih gampang (bahkan dikala itu hanya ada versi mobile) dipakai untuk smartphone dan tablet. Cocok dengan anak muda yang sedang demam smartphone.

Edward Snowden yang hobi mengawasi dan memperingatkan permasalahan privasi bagi pengguna internet juga memuji Snapchat. Snowden mengakui bahwa aplikasi ini memang sangat menjaga kerahasiaan dan privasi penggunanya. Jika kau mengirim pesan atau foto di Snapchat, postingan tersebut tidak bisa disimpan. Bahkan bila di-screenshot sekalipun akan langsung mengirimkan pemberitahuan kepada orang yang mempunyai postingan. Di dikala yang sama, Facebook mulai terkena persoalan alasannya yaitu bagan media sosialnya (yang dimaksud di sini yaitu sistem Facebook yang mana orang bisa memposting foto, dan foto itu akan tetap ada sampai dihapus, sementara orang lain juga bebas untuk men-download foto). Revenge Porn (memposting foto telanjang atau hubungan intim untuk membalas dendam pada mantan atau orang yang menyakiti hatinya) menjadi terkenal di Facebook. Ini menimbulkan persoalan gres bagi remaja secara umum di seluruh dunia. Banyak yang nama baiknya rusak akhir orang memposting sesuatu yang jahat tentangnya di Facebook, dengan korban sebagian besar yaitu perempuan. Ini menjadikan remaja semakin menjauhi Facebook dan makin bersahabat dengan Snapchat.


Meskipun berusia hampir sama dengan Mark Zuckerberg, posisi Spiegel dan Zuck bagaikan bumi dan langit. Zuck dikala itu sudah menjadi miliuner termuda di dunia dan menancapkan kukunya makin dalam di media sosial. Baca Kisah Silicon Valley #101 – Baku Hantam dengan Facebook ahad depan!.

 

 

 

Referensi

Colao, (2014). The Inside Story Of Snapchat: The World’s Hottest App Or A $3 Billion Disappearing Act? Forbes

Hartmans, Avery & Stone, Madeline. (2018). The life and career rise of Snap CEO Evan Spiegel, one of the youngest billionaires in the world. Business Insider

Kosoff, Maya. (2018). Does Evan Spiegel Know Where Snapchat is Going. Vanity Vair.

Moskvitch, Katia. (2018). Insiders say working at Snapchat is ‘like swimming in a shark tank’. Wired.


Sumber: https://winpoin.com/
Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
close